Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu
Arief Poyuono
merasa heran dengan
Ade Armando
yang menyebut PT Titan Infa Energy dizolimi, padahal mengemplang kredit di
Bank Mandiri.
“Dizolimi yang mana, yang dirugikan Bank Mandiri kok dizolimi. Waras gak ya si
Ade Armando ya,” kata Arief dalam video dirinya saat berbincang santai
diunggah akun Youtube Keynes Jhon, Senin (26/9).
“Aku curiga, jangan-jangan karena dipukulin, dikeroyok jadi rada-rada gitu
kan,” imbuh Arief.
Arief kemudian membeberkan fakta bahwa PT Titan Infra Energy merupakan debitur
kredit dari konsorsium sejumlah bank yaitu Credite Suisse, CIMB Niaga dan
Travigura senilai 133 juta dolar AS atau Rp 1,9 triliun serta Bank Mandiri
yang menjadi lead creditor senilai 266 juta dolar AS. Dari konsorsium sejumlah
bank itu, PT Titan mendapat kucuran dana kredit senilai 5,8 triliun.
Namun, lanjut Arief, Titan Infa Energy tidak melakukan pembayaran angsuran
kredit selama dua tahun.
“Ade justru malah membela pengemplang kredit. Hari ini yang dirugikan Bank
Mandiri,” sesal Arief.
Arief yang mengikuti kasus kredit macet PT Titan di Bank Mandiri ini makin
tidak mengerti, ketika alasan Titan tidak membayar angsuran kreditnya lantaran
kondisi perusahaan yang terkena dampak pandemi Covid-19.
“Tapi kok bagi-bagi deviden PT Titan itu kepada pemegang saham,” tanya Arief.
Lalu Arief mengungkap, PT Titan melakukan perkombakan direksi tanpa
persetujuan Bank Mandiri sebagai pemberi kredit yang seharusnya tidak bisa
dilakukan ketika ada perjanjian kredit.
“Dalam perjanjian kredit yang diikat oleh bank, selain Collateral (jaminan)
biasanya bank meminta juga, apabila ada pergantian manajemen itu harus
dilapor. Kedua dia harus melapor laporan keuangannya. Terus tidak boleh
membagi deviden, sebelum kreditnya dibayar. Ya ini gak bayar angsuran hampir
dua tahun terus bagi-bagi deviden,” beber Arief.
Pemberian dividen sebesar Rp 297,25 miliar kepada pemilik Titan, yang
disisihkan dari laba 2021 kepada pemegang saham PT Titan ini kata Arief,
sangat keterlaluan, mengingat pada 2020, perusahaan tersebut tidak membayar
cicilan kreditnya karena mengaku terkena dampak pandemi Covid-19.
“Ini bisa disebut tindak pidana penggelapan,” tegas Arief.
Kemungkinan, kata Arief, PT Titan lebih memilih menyewa buzzer yang biayanya
lebih murah ketimbang menunaikan kewajibannya untuk membayar angsuran kredit
berjumlah hampir 6 triliun itu ke Bank Mandiri.
“Menggunakan buzzer kan jauh lebih murah daripada bayar kredit ke Bank
Mandiri. Mungkin bayar ke buzzernya sekitar 100 atau 200 juta, bayar angsuran
kreditnya bisa ratusan miliar,” pungkas Arief.
source:
RMOL➚

Post a Comment for "Ade Armando Bela PT Titan, Arief Poyuono: Lebih Murah Gunakan Buzzer Ketimbang Bayar Angsuran Kredit Ratusan Miliar"