Tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan ikut disaksikan oleh pemain belakang
asal Portugal, Sergio Silva. Ia bahkan harus mengunci diri bersama
teman-temannya di ruang ganti di tengah kerusuhan yang memakan 125 korban jiwa
itu.
Hal itu diceritakan Silva dalam wawancara dengan media Portugal, A Bola pada
Minggu (2/10). Ia mengatakan tidak menyangka kerusuhan sengeri itu dapat
terjadi, lantaran tidak ada pendukung Persebaya yang diizinkan untuk menonton
langsung.
Dijelaskan Silva, Arema FC vs Persebaya merupakan salah satu pertandaingan
terpanas di Indonesia, seperti halnya laga Porto vs Benfica di Portugal.
Alhasil, otoritas tidak mengizinkan pendukung Persebaya untuk menonton secara
langsung laga di kandang Arema itu.
Setelah kalah dengan 2-3, Silva mengaku berencana untuk berjalan-jalan ke
sekitar stadion dan menghormati para suporter. Tetapi ia terkejut lantaran
ribuan pendukung Arema banyak masuk ke lapangan, sehingga akhirnya para pemain
masuk ke ruang ganti.
"Saya pikir banyak yang datang untuk memberi dukungan dan bukan untuk
menyerang, tetapi lebih baik pergi ke ruang ganti," kata Silva.
Meski berada di ruang ganti dan tidak mengetahui apa yang terjadi, Silva
mengaku tidak merasa benar-benar aman. Mereka hanya bisa mendengar keributan
dan jeritan di koridor.
"Kami menghabiskan empat sampai lima jam di ruang ganti. Dijaga dengan meja
dan kursi untuk menahan pintu," ungkapnya.
Sampai akhirnya, Silva mengetahui teriakan-teriakan dari luar merupakan
kerusuhan parah, di mana para suporter berusaha melarikan diri.
"Saya hanya bia menyebutkan skenario mengerikan, kehancuran, perang, mobil
polisi terbakar, semuanya rusak, koridor penuh darah, sepatu-sepatu. Tidak ada
hubungannya dengan sepakbola," ujarnya.
Menurut Silva, situasi ketika itu sangat sulit. Ia juga meyakini kerusuhan di
Kanjuruhan tidak terjadi karena suporter yang tidak puas dengan kekalahan
Arema.
source: RMOL➚

Post a Comment for "Pemain Arema Beberkan Kengerian di Stadion Kanjuruhan, Terdengar Jeritan dari Ruang Ganti"