Ikuti kami di

Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina

Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina

Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina

Pengamat Terorisme, Hisyam An Najjar

Walaupun tidak adanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel, sejatinya Indonesia ingin menerobos stagnasi isu-isu Palestina yang terjerumus ke arah konflik bersenjata dengan memberikan kesempatan bagi bangsa dan rakyat Indonesia untuk membantu Palestina dan memperkuat hubungan kekanseleran. Indonesia telah memiliki Konsulat Kehotmatan untuk Palestina yang berkedudukan di Amman Yordan yaitu Madam Mahe Abu Shusheh.

Berdasarkan komitmennya sebagai negara Islam terbesar, dan karena kekhawatiran akan dampak perang di Gaza yang berkepanjangan terkait kemungkinan kemungkinan kelompok-kelompok ekstremis mengambil keuntungan dari hal tersebut, dalam propaganda perang dan kegiatan rekrutmen terorisme-terorisme baru, Indonesia menyadari bahwa sudah waktunya untuk hadir sebagai pembawa perdamaian agar isu-isu Palestina tidak dikuasai oleh kelompok-kelompok ekstremis.

Pada Desember 2023, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya di Jawa Timur menyerukan diadakannya seminar dan penggalangan dana untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Antusiasme peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa cukup tinggi sehingga berhasil mengumpulkan lebih dari 100 juta rupiah, hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.

Indonesia memperingatkan rencana Israel yang mengeksploitasi serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober, yang mengakibatkan serangan balasan dan genosida. Israel ingin menghapuskan eksistensi rakyat Palestina dan membentuk negara baru yang tersendiri yaitu Israel Raya.

Para elit intelektual dan politik Indonesia menganggap Negara Arab dan Negara Islam bertanggung jawab untuk mengambil tindakan dan melakukan apa yang diperlukan untuk mencegah terwujudnya skenario yang mengancam stabilitas semua negara di dunia. Negara Islam dan Negara Arab tidak bisa meninggalkan peran historis dan peran mereka dengan dalih bahwa apa yang terjadi terjadi akibat kesalahan dan kecerobohan pihak tertentu.

Para pakar Indonesia yang dekat dengan para pengambil kebijakan percaya bahwa bagian dari kemalangan yang menimpa rakyat Palestina. Hal ini diakibatkan oleh keengganan sebagain faksi Palestina untuk menerapkan solusi yang mencapai kepentingan bersama mereka, karena sudah jauh dari strategi cerdas yang disusun oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sejak kepemimpinan Yasser Arafat antara tahun 1994 hingga tahun 2004.

Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, Guru Besar Emeritus Universitas Pertahanan Indonesia, menjelaskan bahwa rencana dan langkah jangka panjang menuju kemerdekaan membutuhkan solidaritas seluruh warga Palestina dan penguatan PLO, diganggu oleh upaya organisasi politik islamis seperti Hamas. Hal ini yang membuat rakyat Palestina mengalami penderitaan terberat, yang belum pernah dialami umat manusia dalam sejarah dunia.

Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriono, yang saat ini merupakan Guru Besar Filsafat Intelijen dan antara tahun 2001-2004 menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara, berpandangan bahwa para pemimpin Negara Arab dan Negara Islam Islam, meskipun memiliki keinginan untuk mendukung Palestina dan berkontribusi untuk menyelesaikan masalah secara adil, namun adanya hubungan antara Hamas dengan agenda kepentingan global Republik Islam Syiah Iran membuat mereka terkekang secara politik.

Ketergantungan Hamas pada kepentingan Iran sangat mengurangi keinginan dan kemampuan para pemimpin dunia Arab dan dunia Islam Sunni, termasuk Indonesia, untuk berperan dalam mencapai solusi realistis terhadap dilema Palestina. Padahal, mereka yang memiliki kunci untuk menyelesaikannya. Hanya saja, mereka dikhianati oleh para pemimpin Hamas dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya.

Ada keyakinan di kalangan para pakar dan para politisi Indonesia bahwa upaya yang sia-sia dan khayalan untuk mencapai tujuan mustahil yang digagas Republik Islam Iran, yaitu menghapus Israel dari peta dunia, merupakan titik lemah bagi Negara Arab dan Negara Islam Sunni dalam mendukung perjuangan utama dan peran penting Negara Arab dan Negara yang kuat dan berpengaruh di Afrika dan Asia seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Indonesia.

Mereka mendapati bahwa harapan mereka tertuju pada perbaikan kesalahan di tahun-tahun lalu, menempatkan segala sesuatunya dalam perspektif yang benar, dan mengembalikan permasalahan tersebut kepada pemilik sebenarnya. Kemudian mereka dapat bekerja keras dengan tulus, dan bijaksana, serta bersikap realistis, untuk memulihkan hak-hak dan martabat Bangsa Palestina.

Dan tidak akan tercapai kemajuan dan keberhasilan yang sebenarnya kecuali jika dicapai melalui upaya para pendukung pemimpin Palestina dan memungkinkan Fatah untuk mengambil kendali memimpin Palestina menuju pencapaian kemerdekaan.

Segala upaya dalam melanjutkan perlawanan dan perjuangan dalam isolasi dari mengekspor slogan-slogan provokatif dari kelompok-kelompok islamis terkait penghapusan pemeluk agama lain dan menghapus eksistensi mereka, serta mengembalikan Fatah pada kepemimpinan dengan dukungan kuat dari negara-negara Arab dan negara-negara Islam adalah satu-satunya penjamin untuk memperbaiki distorsi ketidakseimbangan tersebut, dan menempatkan bangsa Palestina kembali pada peta jalan kemerdekaan untuk memulihkan hak-hak mereka dan menjaga martabat mereka.

Jalur ini menjamin dukungan komunitas internasional dan mendatangkan simpati dunia terhadap perjuangan Palestina. Serta dapat menghilangkan pengaruh-pengaruh propaganda Israel di seluruh dunia mengenai tuduhan bahwa mereka memerangi organisasi teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS, bukan gerakan perlawanan nasionalis.

Dengan meminggirkan peran kelompok-kelompok ekstremis, dapat memungkinkan Negara Arab dan Negara Islam memiliki alat untuk membantah narasi para pemimpin Israel yang dengan kuat mempromosikan propaganda kepada publik dunia internasilnal bahwa, para pemimpin Palestina berupaya untuk melenyapkan Bangsa Yahudi, yang digambarkan serupa dengan kekejaman para pemimpin Nazi Jerman pada antara tahun 1941-1945.

Menurut pandangan Prof Dr Abdullah Mahmud Hendropriyono, Negara Arab dan Negara Islam memiliki simpul-simpul kekuatan non-militer, di antaranya adalah 4 juta Umat Islam di Inggris dan Wales, termasuk politisi, dan sekitar 15.000 orang di kalangan elit intelektual berpengaruh, termasuk 5 juta warga keturunan Arab yang berpengaruh di sektor keuangan dan ekonomi di Perancis, serta banyak tokoh masyarakat terkemuka dan sekitar 10 persen Muslim Sunni di Eropa.

Tokoh-tokoh berpengaruh ini dapat dimobilisasi dan dimotivasi untuk memperluas perjuangan politik kerakyatan sejalan dengan doktrin perjuangan Rakyat Indonesia, yaitu Perjuangan Rakyat Semesta melalui Dunia Maya termasuk memanfaatkan Artificial Intelligent (AI), dengan tujuan untuk mendorong Dunia Internasional untuk bekerja sama dalam mencapai penyelesaian damai, berdasarkan Solusi Dua Negara, yang merupakan langkah paling cerdas sebagai kontra-propaganda Israel, dan paling realistis untuk diterapkan.

Sementara itu, Dr KH Asa’d Said Ali, Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, menggagas langkah bersama Indonesia dan Mesir untuk membuat peta jalan untuk menyelesaikan isu-isu Palestina berdasarkan pengaruh keduanya di forum-forum regional dan internasional, termasuk pengaruh pengaruh keduanya di Negara Arab dan Negara Islam. Indonesia dan Mesir perlunya berusaha mewujudkan harapan Palestina sebagai negara merdeka, dibarengi dengan memberikan jaminan keamanan kepada Israel.

Meski tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel berdasarkan konstitusi yang melarang keras penjajahan, namun kalimat ‘dilarang mengunjungi Israel’ yang tertulis di Paspor Indonesia telah dihapus sejak era pemerintahan Presiden Muhammad Suharto yang dimulai pada dekade tujuh puluhan abad lalu.

Sejak kunjungan tidak resmi yang dilakukan oleh Mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres ke Jakarta atas undangan Mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid pada pertengahan dekade sembilan puluhan, kunjungan warga negara Indonesia ke Israel mulai meningkat, dan pembicaraan di tingkat pemerintahan dimulai tentang memperbaiki hubungan sosial dan ekonomi dengan Israel dan Palestina.

Dr. KH As’ad Said Ali yang saat ini menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia berpendapat bahwa kunjungan sosial, ekonomi, dan bisnis antara Negara Arab dan Negara Islam dapat mempercepat saling pengertian, sehingga menjadi jembatan menuju perdamaian dan terbukanya jalur hubungan diplomatik yang mengarah pada meyakinkan Israel akan jaminan keamanan.

Para pakar dan banyak tokoh berpengaruh di kalangan pengambil kebijakan di Indonesia, percaya bahwa mendorong kerja sama perdagangan dan pariwisata antara Israel dan Indonesia, bahkan tanpa perlu menjalin hubungan diplomatik, akan menguntungkan Palestina dan Komunitas Yahudi secara ekonomi.

Persepsi ini mempertimbangkan perlunya mengambil manfaat dari upaya Komunitas Yahudi di berbagai negara dunia yang menolak membiayai perang Israel atas Gaza, serta mencari peluang di era globalisasi untuk melancarkan perdagangan global yang mendekatkan budaya dan peradaban serta meningkatkan perdamaian dan interaksi antar bangsa di dunia.

Tekanan dari Komunitas Yahudi di seluruh dunia sebelumnya pernah turut andil dalam memaksa Tentara Israel menarik diri dari Lebanon selatan pada tahun 1982.

Mustasyar PBNU Dr As’ad Said Ali mengusulkan sebuah proyek paket umrah, yang mencakup kunjungan ke Al Quds Palestina bagi Umat Islam Indonesia setelah menunaikan umrah ke Mekah dan Madinah setiap tahun. Termasuk juga paket Holy Tour bagi Umat Kristiani Indonesia untuk mengunjungi Betlehem.

Kegiatan keagamaan dan pariwisata ini secara bertahap meningkatkan kesadaran masyarakat Palestina dan Yahudi akan manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari interaksi dengan rakyat Negara Arab dan rakyat Negara Islam dari seluruh dunia, khususnya dari Indonesia, yaitu Negara Islam terbesar dalam hal jumlah penduduknya.

Jika dilaksanakan, proyek ini dapat memperkuat eksistensi Masjid Al Aqsha, Al Quds dan Palestina secara politik dan keagamaan. Masjid Al Aqsa (di Al Quds Timur) menjadi tempat bersama bagi seluruh umat agama samawi (Islam, Yahudi, dan Kristen), sebagai landasan untuk membentuk kesadaran akan pentingnya Masjid Al Aqsa (Yerusalem Timur) bagi dunia internasional dalam mencapai perdamaian dunia.

Para politisi dan para intelektual Indonesia menyerukan negara-negara Arab dan Islam untuk memberikan tekanan pada semua tingkatan atas negara-negara Eropa, terutama Inggris dan Perancis, agar bertanggung jawab atas tindakan mereka setelah Perang Dunia II, serta agar menjauhi kebijakan Amerika Serikat yang mendukung Israel.

Inggris dan negara-negara Eropa lainnya mempunyai kesempatan bersejarah untuk menebus kesalahan mereka sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan pendirian Israel di jantung Dunia Arab dan Dunia Islam untuk kepentingan politik-ekonomi dalam memaksakan kendali atas Timur Tengah dengan berkontribusi memberikan bantuan kepada Rakyat Palestina untuk sebuah negara merdeka setelah melalui perjuangan dan kesabaran yang panjang, daripada hanya selalu menciptakan konspirasi-konspirasi atas Rakyat Palestina dan negara-negara Arab tetangganya.

Diterbitkan di koran Al Bawabh News Mesir pada pertengahan Januari 2024

Diterjemahkan oleh Mush'ab Muqoddas, Lc

Sumber:
kilat➚

Post a Comment for "Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina"

𝐒𝐔𝐏𝐏𝐎𝐑𝐓 & 𝗜𝗞𝗨𝗧𝗜 𝗖𝗛𝗔𝗡𝗘𝗟 𝗞𝗔𝗠𝗜 :

Ikuti Telegram belumadajudul.com   Ikuti Whatsapp belumadajudul.com  

𝐒𝐔𝐏𝐏𝐎𝐑𝐓 & 𝗜𝗞𝗨𝗧𝗜 𝗖𝗛𝗔𝗡𝗘𝗟 𝗞𝗔𝗠𝗜 :

Ikuti Telegram belumadajudul.com   Ikuti Whatsapp belumadajudul.com