Pemilihan Presiden 2024 sudah semakin dekat, namun hingga kini para partai
politik masih belum menemukan pasangan yang ideal untuk diusung.
Meski sejumlah komitmen koalisi telah terbentuk, belum ada figur yang
benar-benar disepakati secara resmi. Dukungan partai terkait capres-cawapres
masih sangat cair, kecuali Nasdem dan PDIP yang kemungkinan tak bisa bergeser
lagi.
Nasdem memutuskan Anies Baswedan capres, sedangkan PDIP memastikan bakal
mengusung kader jadi usungan antara Puan Maharani atau Ganjar Pranowo. Partai
lain, meski cenderung ke figur tertentu, belum berani mengajukannya sebagai
usungan koalisi.
Partai dinilai masih sibuk melakukan negosiasi dengan calon koalisi. PKS dan
Demokrat, misalnya, Hingga kini, tak satu pun partai yang kokoh. Meski Nasdem
lebih awal mendeklarasikan capres, partai bentukan Bos Metro TV, Surya Paloh,
itu terkendala kursi.
Nasdem mengoleksi 10,26 persen. Dengan angka itu, masih butuh setidaknya angka
sekian untuk memenuhi angka presidential threshold 20 persen. Jika PKS dan
Demokrat jadi bergabung, langkah Nasdem mencapreskan Anies, aman.
Sayang, PKS dan Demokrat yang sejak awal menyatakan akan bergabung, tak
kunjung memberikan kepastian. Bahkan, hingga kini belum ada jadwal pasti kapan
keduanya melakukan deklarasi. Dalih keduanya sama. Tak perlu terburu-buru
karena partai lain pun belum bersikap.
Dalam hal ini, Demokrat dan PKS masih terus bernegosiasi. Misalnya, pola
bagi-bagi kekuasan ketika mereka sepakat mengusung Anies, lalu usungan
memenangkan Pilpres 2024.
Walaupun di antaranya, Demokrat, maupun PKS tidak mendapatkan posisi calon
presiden sekali pun, mereka tentu harus memastikan tetap punya kontrol
terhadap koalisi. Seberapa besar kontrol yang bisa mereka dapatkan dalam
koalisi.
"Nah, inilah yang paling penting sebenarnya karena kontrol ini tentu sangat
berpengaruh pada kebijakan-kebijakan yang dibuat presiden nantinya," kata Ali
Armunanto, analis politik Universitas Hasanuddin (Unhas), dikutip Minggu
(22/1/2023).
Termasuk bagi-bagi jatah kabinet. Itu juga menentukan kontrol di posisi apa
PKS dan Demokrat diberikan. "Apakah, misalnya, meminta Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral, Menteri BUMN, Menteri Perekonomian, dan lainnya,"
katanya.
Bisa juga partai tertentu mengincar Menteri Pertanian atau Menteri Dalam
Negeri dan Menteri Hukum dan HAM. Semuanya, ada keuntungan masing-masing,
sehingga deal ini harus mereka amankan dahulu.
Jika ini belum deal, maka akan menjadi batu sandungan bagi mereka. "Karena
jika tidak deal dari awal bisa menyebabkan pecahnya koalisi. Itu penyebabnya
sehingga Demokrat dan PKS tak kunjung deklarasi," Ali memprediksi.
Termasuk PDIP. Menurut Ali, masih ada komitmen yang harus diselesaikan dalam
partai. Terutama jika Ganjar Pranowo dipilih sebagai capres. Ganjar harus
dipastikan loyal, seperti loyalnya Jokowi Widodo kepada Megawati
Soekarnoputri.
Sementara, Puan Maharani kemungkinan besar tidak didukung. Tetapi, kemungkinan
besar, kendali utama partai itu akan diberikan kepadanya, seperti kekuasaan
yang dimiliki Mega saat ini. Ada pun Ganjar, dia akan didukung PDIP. Sinyal
dukungan itu terang-benderang saat Mega pidato di HUT ke-50 PDIP.
Misalnya, ketika Mega menyindir Jokowi bahwa dia adalah orang yang dari awal
tidak punya apa-apa terus dibesarkan dan dikawal PDIP. Jika diperhatikan,
sepanjang pidatonya, Mega terus mengingatkan loyalitas kader.
Mega juga menekankan peran partai dalam membesarkan kader. Semua itu dinilai
menjadi indikasi bahwa Mega tidak akan mencalonkan Puan, tetapi Ganjar.
"Dan dari awal menekankan bahwa dia harus loyal, sama loyalnya Jokowi terhadap
Mega. Jadi saya sangat yakin sampai saat ini 99 persen keyakinan saya bahwa
Ganjar akan dicalonkan oleh PDIP," ucap dosen Ilmu Politik FISIP Unhas itu.
Ke depan, situasi masih akan tetap cair. Mereka akan sama-sama berambisi
mengegolkan target-target mereka agar terwadahi dalam suatu koalisi. Jika
porsi yang didapatkan tidak ada komitmen bersama, pasti akan susah terwujud.
"Kemudian partai akan mencari grup kelompok politik lain," urai Andi Lukman
Irwan, analis politik Unhas.
Ini berarti partai politik harus sadar juga melihat bagaimana elektabilitas
dan tingkat penerimaan masyarakat seorang figur. Termasuk kemampuan ekonomi
dari setiap kandidat, karena akan sangat menunjang pembiyaan politik kala jadi
usungan.
Apalagi, ada proses Pileg yang pada saat bersamaan harus dihadapi oleh partai.
Ditambah dengan fenomena Anies yang oleh Nasdem sudah lebih dahulu
mendeklarasikannya.
"Kemudian boleh jadi mendapat efek ekor jas terkait dengan dukungan ke Pak
Anies partai politik lain pasti berlindung apakah kemudian memilih Pak Anies
suara mereka bisa naik atau tidak di pemilu nanti. Ini, kan, pasti menjadi
kalkulasi-kalkulasi politik dari partai-partai ini," ucap Lukman Irwan.
Terkait Prabowo Subianto, masih ada dalam posisi psikologi politik yang
dilematis. Prabowo pernah menjadi calon presiden, pernah menjadi calon wakil
presiden, tetapi selalu gagal. Ini menjadi psikologi politik tersendiri untuk
bisa menjadi kekuatan politik untuk meyakinkan masyarakat.
"Tapi politik itu sangat cair. Jadi banyak kemungkinan masih bisa terjadi.
Yang pastinya kemudian ada ukuran-ukuran yang akan digunakan oleh partai
politik untuk mengusung pasangan calon terkait dengan kekuatan survei
dankekuatan modal politik," jelas Lukman.
Alternatif poros-poros sekarang ini mulai mengerucut. Sebenarnya ada poros ke
Anies, ada poros Ganjar. Apalagi, sudah ada preferensi dan rekam jejak yang
dimiliki oleh Ganjar dan Anies. "Jadi ini juga harus dikalkulasi juga oleh
Gerindra," tuturnya.
Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni'matullah menegaskan, meski belum deklarasi,
pihaknya menyakini dukungan partainya tetap ke Anies. Kenapa belum deklarasi?
Tak perlu terburu-buru. Banyak hal yang masih lebih penting dari deklarasi.
"Seperti kisruh pemilu terbuka atau tertutup. Saya kira itu semua masalah.
Jadi bukan hanya Pilpres diurusi," katanya.
Yang pasti, Demokrat masih dalam arah yang sama. Ni'matullah juga tak
memungkiri bahwa masih ada yang perlu dibahas terkait kesamaan yang harus
dilakukan oleh ketiga partai.
Ketua DPW PKS Sulsel Amri Arsyid juga menyampaikan yang sama. Hingga kini arah
dukungan PKS untuk Pilpres 2024 masih tetap sama. Bahkan ia menyebut arah itu
makin kuat. "Insyaallah," tegasnya.
Soal waktu, Amri juga menegaskan bahwa pihaknya juga tak mengetahui. Ia
kembali menekankan bahwa semua itu adalah kehendak dewan syura. "Ditunggu
saja, insya Allah," pungkasnya.
sumber: AKURAT➚

Post a Comment for "Tak Kunjung Deklarasikan Dukungan Ke Anies, PKS-Demokrat Belum Deal Soal Pembagian Jatah?"