Pakar Politik yang juga staf Pengajar Departemen Politik, FISIP Unair, Haryadi
mengatakan, ada pihak yang mengambil manfaat untuk kepentingan tertentu dari
pidato Megawati untuk falsifikasi makna politik.
“Jadi seakan PDI Perjuangan pamer kuasa di hadapan Presiden Jokowi. Bahkan
beberapa ada yang menarasikan bahwa Presiden merupakan subordinat PDI
Perjuangan,” kata Haryadi, Jumat (13/1).
Lalu apa contoh falsifikasi makna yang terjadi? Haryadi mengatakan, cara yang
dilakukan Megawati merupakan pesan kekeluargaan yang akrab, seperti layaknya
Ibu kepada anak-anaknya, dalam prosesi perayaan HUT itu, justru dibelokkan
maknanya sebagai subordinasi PDIP terhadap Jokowi.
Padahal, perlu dipahami pula memang acara itu dimaksudkan sebagai perayaan di
dalam keluarga besar dan masyarakat biasa. Sebab sejak awal didisain merupakan
acara internal partai. Karena yang paling banyak diundang hadir adalah level
Akar Rumput yaitu pengurus ranting partai dan Satgas Cakra Buana.
Karena itu, pimpinan partai politik lain yang merupakan level elite memang tak
diundang. Bahkan level menteri di kabinet Presiden Joko Widodo tak semuanya
diundang.
“Laiknya dalam keluarga, bisa lebih terbuka dalam berbicara. Pesan sebagai
keluarga besar adalah ciri khas Bu Mega untuk membangun internal political
market dan militansi para kader. PDIP termasuk salah satu partai yang dengan
political ID atau identitas politik yang paling kuat. Itu berkat kekuatan
mesin politik internal yang dibangun Bu Mega selama bertahun-tahun,” urai
Haryadi.
Menurut Haryadi, cara berpolitik demikian sudah terbukti membuahkan hasil.
Dijelaskannya, faktor yang membuat PDIP berhasil di Pemilu 1999. Selanjutnya,
Pemilu 2004 dan 2009, PDIP gagal bahkan terlempar keluar dari kekuasaan.
Berikutnya lagi, pada Pemilu 2014 dan 2019, PDIP merebut kembali kekuasaan.
Kemenangan Pileg dan sekaligus Pilpres pada tahun 2014 dan 2019 itu, merupakan
rekor baru dalam politik kepemiluan di Indonesia. Faktor penentu kemenangan
dua kali berturutan itu adalah karena PDIP beruntung memiliki dua figur role
model sekaligus, yaitu Megawati dan Jokowi.
“Kekuatan dua figur ini menjadi perekat identitas partai yang begitu kuat.
Sekaligus menjadi penentu kemenangan PDI Perjuangan secara berturutan. Betapa
pun potensi kekuatannya secara kelembagaan diperlemah oleh pemberlakuan sistem
Pemilu proporsional terbuka,” urai Haryadi.
Karena itu, sebenarnya jika kita bisa menelaah lebih dalam, sesungguhnya bukti
di atas menguatkan betapa penting posisi Jokowi dalam point of view Megawati
selaku Ketua Umum PDIP, tanpa melupakan kejelian Mega sebagai leader maker dan
jiwanya sebagai seorang negarawan.
“Bu Mega menempatkan Presiden Jokowi di tempat tertinggi partai dalam kesatuan
gerak dalam memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat. Tak ada subordinasi.
Dan sama seperti tubuh, kepala tak lebih penting dari tangan atau kuku
sekalipun. Tak ada keindahan organ tubuh, jika hanya ada kepala tanpa tangan
dan kuku. Bu Mega jelas ingin mengatakan bahwa Akar Rumput partai dan
masyarakat sama pentingnya dengan dirinya maupun dengan Presiden Jokowi dalam
kesatuan tubuh bernama Indonesia,” urai Haryadi.
Haryadi menyarankan agar semua pihak pihak meletakkan tiap kalimat dalam
konteksnya.
“Jangan memenggal tanpa konteks. Kecuali pemenggalan itu sengaja dilakukan
untuk motif dan kepentingan politik nakal,” pungkasnya.
sumber:
JAWAPOS➚

Post a Comment for "Pakar Sebut Pidato Mega Bukti PDIP Tak Kerdilkan Posisi Jokowi"