Serangan terhadap China oleh pasukan milisi sepertinya tidak akan berhenti. Di
Pakistan, serangan militan terhadap warga dan proyek China sering dilaporkan,
padahal China adalah investor asing terbesar di negara itu.
Orang-orang di Pakistan telah memprotes China, menolak eksploitasi sumber daya
alam yang berlebihan dan pengaruh ekonomi dan militernya yang tumbuh.
Bisa diduga, kemungkinan ini juga akan terjadi di Afghanistan, terutama
setelah Beijing menandatangani kesepakatan ekstraksi minyak dengan Kabul
baru-baru ini.
Global Strat View dalam analisisnya menuturkan kemungkinan itu. Mereka
menuturkan bahwa pasukan Islam curiga karena diduga Beijing berusaha mengisi
celah yang ditinggalkan oleh AS.
"Mereka tampaknya tidak senang dengan China yang mengembangkan jejaknya di
negara yang dilanda perang, tercermin dalam serangan baru-baru ini terhadap
warga negara China dan proyek di wilayah tersebut," tulis Global Strat View di
situsnya.
Dukungan pemerintah Taliban yang berkuasa kepada China dalam eksploitasi
komersial di Afghanistan yang kaya mineral tidak berjalan baik dengan kekuatan
radikal ini, termasuk ISIS yang tangguh. Selain itu, tuduhan penganiayaan
terhadap minoritas Muslim Uyghur menambah masalah China.
China memiliki tujuan yang jelas untuk mengeksploitasi kekayaan mineral yang
sangat besar di Afghanistan. Namun niatnya untuk memperluas Koridor Ekonomi
China-Pakistan (CPEC) ke Afghanistan telah menjadi isu yang memprihatinkan.
Kekhawatiran itu pernah diungkapkan ISIS-K, afiliasi regional dari kelompok
Negara Islam, dalam sebuah wawancara di majalah berbahasa Inggris Voice of
Khorasan pada September 2022.
Kelompok itu menyalahkan Inisiatif Jalan Sabuk (BRI) China, di mana CPEC
adalah bagian darinya. Dengan BRI, China seperti menjerat negara-negara ke
dalam lingkaran setan utang, lalu mengalami "gagal bayar”.
“Tiongkok mungkin menggunakan skema pinjaman semacam itu untuk melemahkan
negara-negara dunia ketiga yang miskin dan meningkatkan pengaruh mereka di
wilayah tersebut untuk membangun koloni neo-Tiongkok,” tulis artikel tersebut.
Selain mencurigai skema BRI, ISIS-K juga mengecam China dengan menyebut
"tangannya dibasahi dengan darah Uyghur yang tidak bersalah”.
Ketakutan dan kecurigaan itu pada akhirnya menciptakan serangan di mana
pasukan militan dilaporkan telah melakukan penculikan dan pembunuhan warga
China, selain membom proyek-proyek China.
Desember 2022, lima warga negara Tiongkok terluka dalam pemboman hotel di
Kabul. Ini bisa jadi adalah bagian dari sentimen sentimen anti-Tiongkok.
"Serangan terhadap warga China memiliki dampak yang terlihat," kata Global
Strat View. Para pebisnis China akhirnya mempertimbangkan untuk meninggalkan
negara yang dilanda perang itu.
Pengusaha Yu Minghui, misalnya. Ia mengaku tidak akan kembali ke Afghanistan,
membiarkan pabrik manufaktur di Afghanistan ditinggalkan begitu saja.
"Taliban mengizinkan China di Afghanistan untuk mendapatkan pengakuan
internasional. Namun, hal itu menyebabkan kemarahan terhadap China tumbuh di
kalangan kelompok Muslim radikal. ISIS-K telah menjadi kekuatan anti-Tiongkok
yang populer di Afghanistan karena menimbulkan kerugian dari kebijakan
imperialistik Tiongkok dan penindasan brutal terhadap Muslim Uygur," Global
Strat View.
Gerakan Islam Turkistan Timur (sekarang Partai Islam Turkistan) bisa menjadi
salah satu musuh yang akan menyerang proyek China di Afghanistan sebagai balas
dendam terkait Uyghur. Demikian pula, kelompok militan Baloch juga dapat
menargetkan proyek China di Afghanistan untuk memprotes eksploitasi sumber
daya alam, pembunuhan, dan hilangnya tanah serta mata pencaharian akibat CPEC
di Balochistan Pakistan.
"China sedang mencoba merampok keuntungan di Afghanistan di latar belakang
isolasi rezim Taliban oleh blok barat," papar Global Strat View.
Perkiraan nilai kekayaan mineral di Afghanistan adalah antara 1-3 triliun
dolar AS. Namun, para ahli internasional meragukan angka itu.
Steve Tsang, direktur SOAS China Institute yang berbasis di London, mengatakan
bahwa China mungkin masih akan terluka karena kemungkinan akan melihat
serangan dari pasukan Islam, termasuk ISIS-K, TIP, dan bahkan pejuang Taliban.
“Sama seperti orang Amerika yang tidak belajar dari pelajaran Rusia dan
Inggris sebelum mereka, kemungkinan besar orang China juga tidak akan belajar
dari kesalahan Amerika,” katanya.
sumber: RMOL➚

Post a Comment for "Dendam, Militan Islam Tidak akan Berhenti Luncurkan Serangan pada Proyek China"