INDONESIA itu hebat. Kalau saat ini kita dilanda banyak masalah, itu bukan
karena kita tidak punya sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM).
Melainkan karena para penguasa tidak mampu mengelola kedua sumber itu agar
Indonesia menjadi negara maju.
Negara ini kaya raya. SDA melimpah ruah. Dan itu ada di mana-mana.
Berjenis-jenis. SDM juga melimpah ruah. Pun ada di mana-mana. Beragam-ragam,
bertingkat-tingkat, untuk pekerjaan ringan maupun pekerjaan berat. Untui
pekerjaan hardware (keras) maupun pekerjaan software (lunak).
Jadi, SDA-nya serba ada dan SDM-nya serba bisa. SDA dan SDM yang kualitatif
sekaligus kuantitatif. Inilah aslinya Indonesia. Bangsa dan negara ini
dikaruniai kekayaan yang komplit.
Tetapi, kekayaan yang dahsyat itu hanya dinikmati oleh segelintir orang yang
hanya mengutamakan nafsu kerakusan. Mereka mengeksoloitasi kekayaan yang maif
itu untuk keuntungan pribadi sebesar mungkin.
Mereka itu adalah persekongkolan orang-orang yang tidak memikirkan orang lain.
Mereka semata-mata memikirkan diri sendiri dan geng-geng yang membantu mereka
melakukan tindakan yang hanya pantas disebut sebagai perampokan itu.
Inilah persekongkolan antara oligarki bisnis (pemodal) dan oligarki kekuasaan,
baik yang berada di eksekutif maulun di legislatif. Indonesia sedang babak
belur di tangan mereka. Semua serba terbalik. Logika terbalik. Makna ucapan
terbalik. Nilai-nilai pun ikut jungkir balik. Yang benar divonis salah. Yang
salah diberi perlindungan, dst.
Rakyat susah dan semakin menderita. Pengelolaan negara amburadul sempurna.
Rajut sosial menjadi rusak. Semua perbedaan, baik itu soal keimanan, pandangan
dan pilihan politik, kultural, dll, digunakan sebagai resep adu domba.
Berkembanglah dan maraklah keterbelahan sosial-politik. Rakyat disibukkan oleh
perpecahan yang kian hari semakin dalam dan mengeras itu.
Alhamdulillah, di tengah situasi yang carut-marut ini masih ada harapan untuk
perubahan. Walaupun harapan itu harap-harap cemas. Meskipun kita semua sedang
dihimpit seribu kerumitan.
Hari ini, harapan perubahan itu tampak muncul di horizon Indonesia. Perlahan,
perubahan itu bukan lagi dalam bentuk harapan. Tapi sudah menyosok menjadi
kenyataan.
Dari Jakarta, sebagai jantung Indonesia, perubahan yang diteriakkan di seluruh
pelosok negeri itu telah menggelinding menjadi bola salju. Dan bola salju itu
tidak lain adalah Anies Baswedan.
Sejak hari pertama duduk di kursi gubernur DKI, Anies menuliskan lembaran
pertama perubahan itu. Dia mengubah kultur administrasi pemerintahan dan
orientasi pembangunan fisik dan psikis Jakarta. Supremasi hukum, etika dan
humanisme menjadi tema besar pengelolaan pemerintahan. Singkatnya, semua
aturan nasional dan regional harus ditegakkan.
Anies menertibkan tempat-tempat hiburan yang sebelumnya menikmati kesewenangan
dalam beroperasi. Alexis adalah salah satu simbol kesewenangan yang kemudian
ditutup atas instruksi Anies. Penghentian pekerjaan pulau reklamasi merupakan
contoh spektakuler tindakan hukum yang dilaksanakan Anies.
Supremasi hukum diperkuat oleh etika dan prinsip-prinsip humanisme
(kemanusiaan). Inilah resep utama yang digunakan Anies. Dampak dari penagakan
hukum dan perangkat peraturan itu mengubah suasana Jakarta. Pendekatan
kemanusiaan yang diterapkan Anies menyempurnakan misi perubahan Jakarta.
Seluruh rakyat, tidak hanya orang Jakarta, menyaksikan perubahan fisik dan
psikis yang diprakarsai Anies. Banyak warga yang tidak punya tempat tinggal,
sekarang bisa menikmati program rumah murah dan mudah. Anies membangun
infrastruktur transportasi yang baru. Atau memperbaiki dan meningkatkan
kualitas jaringan yang sudah ada. Anies menciptakan taman-taman hijau yang
selama ini tidak ada atau tidak dirawat.
Semua ini menumbuhkan rasa nyaman dan percaya diri warga Jakarta. Selama lima
tahun ini warga kecil yang terpinggirkan, ikut merasakan kebahagian hidup.
Mereka merasa dimanusiakan. Inilah antara lain hasil kebijakan humanisme yang
melengkapi langkah-langkah penegakan peraturan hukum.
Walhasil, Jakarta tidak hanya milik orang-orang yang berduit. Tetapi juga
menjadi harapan hidup berjuta-juta orang kecil yang kemarin tak dianggap oleh
kapitalisme dan individualisme Jakarta.
Terlalu singkat tulisan ini untuk menjelaskan pekerjaan teknokratis yang
sangat rumit selama kepemimpinan Anies di Jakarta. Yang jelas, dia telah
mengubah Jakarta menjadi kota yang berkemanusiaan. Dia juga mengubah kota
besar ini menjadi ramah pengguna transportasi, menjadi ramah bagi orang yang
memerlukan perawatan kesehatan, menjadi ramah bagi pelaku bisnis besar,
menengah maupun kecil, menjadi ramah bagi penikmat taman hijau, dlsb.
Begitu dahsyat transformasi yang dialami Jakarta dan warganya. Begitu nyata
dan drastis perubahan yang digagas oleh Anies. Sampai-sampai gaungnya
menjangkau dan menyentuh hampir semua sudut negeri. Yang kemudian memicu
keinginan sebagian besar rakyat agar Anies memimpin perubahan Indonesia.
Masih lagi duduk di Balai Kota Jakarta, sekian banyak kelompok relawan
bermunculan. Mereka semua siap mendukung Anies di Pilpres 2024. Siap juga
mengkampanyekan Anies kepada rakyat.
Sungguh luar biasa. Anies Baswedan kini berubah menjadi bola salju perubahan.
Dia terus menggelinding sambil memperbesar bola salju itu.
Medan, 13 November 2022
source: FNN➚

Post a Comment for "Anies Baswedan: Bola Salju Perubahan"