Ikuti kami di

Eks Senior PDI-P Tuding Megawati Lakukan Kesalahan Besar Sebut Jokowi sebagai Petugas Partai


Langkah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri yang menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) petugas partai sejak awal menjabat Wali Kota Solo merupakan kesalahan besar. 

Seharusnya, PDI-P menempatkan Jokowi sebagai partner. Hal itu disampaikan eks senior PDI-P yang juga loyalis Jokowi Roy Maningkas, Jumat (24/11/2023).

“Kehadiran Jokowi di PDI-P itu, seperti air di tengah padang pasir. Kondisi PDI-P saat itu tengah terpuruk. Artinya, banyak pemilih baru ataupun pemilih PDI-P yang sudah mulai ragu. Namun, Jokowi di PDI-P menambah jumlah pemilih baru dan meyakinkan pemilih lama untuk tetap mendukung partai berlambang banteng tersebut,” ucap Roy yang kini menjadi Wakil Ketua Komandan Relawan TKN Prabowo-Gibran.

Roy menjelaskan, hubungan PDI-P dengan Jokowi merupakan mutual benefit atau saling menguntungkan satu dengan yang lain.

“Artinya, Pak Jokowi bukan datang dengan tangan kosong,” jelasnya.

Namun, lanjut Roy, partai yang dinahkodai Megawati Soekarnoputri itu lalai memosisikan Jokowi layaknya sebagai partner.

Sebagai contoh, PDI-P tidak menempatkan Jokowi dalam struktural partai dan hanya anggota biasa partai. Dari awal, Jokowi bukanlah kader ideologis, melainkan strategic partner.

“Ini beda dengan kami-kami yang sejak tahun 1980, pada saat orde baru, sudah jadi kader ideologis partai PDI dan sejak mahasiswa sudah mengerti gerakan mahasiswa dengan pemahaman Marhaenis, mungkin kalau kami-kami bolehlah dibilang petugas partai,” tuturnya.

Menurutnya, sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga jadi presiden, Jokowi diperlakuan oleh sebagian besar oknum di pimpinan PDI-P, dengan sebutan petugas partai dan beragam kalimat yang mengerdikan peran dan kontribusi Jokowi.

Dari data perolehan suara, ungkap Roy, sejak kehadiran Jokowi, suara PDI-P melesat cepat.

Pada tahun 2009 perolehan suara partai berlogo banteng bermoncong putih itu mencapai 14,88 juta suara.

Di tahun 2014, melesat menjadi 23,67 juta suara. Dan, di tahun 2019 menjadi 27,05 juta suara.

“Tak dapat dipungkiri, melesatnya suara PDI-P itu dikarenakan Jokowi effect,” tuturnya.

“Apakah PDI-P masih akan bertahan seperti sekarang ini, kalau tidak ada faktor Jokowi? Jujur saja, jika dari awal Jokowi tidak memberi manfaat bagi PDI-P pasti beliau sudah ditendang keluar dari partai,” ungkapnya.

Dia menegaskan, banyak oknum PDI-P menuding bahwa Jokowi tidak memiliki kontribusi untuk internal mereka. Faktanya, rakyat memilih PDI-P lantaran kontribusi dari Jokowi.

Hingga, berimbas pada kemenangan dua periode berturut-turut setelah sebelumnya PDI-P hanya menjadi oposisi selama 10 tahun.

Itu dapat dilihat, dari kekalahan PDI-P dalam gawe Pilpres setelah menempatkan Megawati sebagai Capres.

“Bu Mega saja yang punya partai 2 kali kalah Pilpres tahun 2004 dan 2009 di era rakyat memilih langsung. Artinya rakyat sebagai pemilik suara menjadikan Jokowi sebagai pertimbangan utama untuk memilih Presiden dan kemudian PDI-P sebagai partai pendukungnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, tegas Roy, wajar bila akhirnya Jokowi melakukan langkah-langkah baru untuk menjamin melanjutkan program dan visi besarnya sebagai presiden.

Sumber: tribunnews
Foto: Kolase Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri/Net

Post a Comment for "Eks Senior PDI-P Tuding Megawati Lakukan Kesalahan Besar Sebut Jokowi sebagai Petugas Partai"


www.dewaweb.com

Web Hosting