Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute
(IPI), Karyono Wibowo mengamati peluang Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto Djojohadikusumo
guna memenangi Pilpres 2024. Dia menyarankan agar Prabowo cermat dalam
memilih pasangan dan koalisi.
Elektabilitas Prabowo yang selalu tinggi dalam berbagai survei, kata dia,
mulai mengalami kecenderungan menurun.
Meski demikian, menurut Karyono, figur Prabowo masih memiliki potensi
memenangkan kontestasi Pilpres 2024. Dia meminta Prabowo belajar dari
pengalaman Pilpres 2014 dan 2019.
"Hal itu tergantung siapa pasangannya, dan tergantung formasi kandidat yang
akan bertarung nanti. Jika merujuk pada hasil survei terkini, menunjukkan
peta kekuatan Prabowo semakin melemah," kata Karyono kepada Republika di
Jakarta, Kamis (14/10).
Selain itu, faktor penentu lain adalah siapa rival Prabowo. Apabila
Ganjar Pranowo
dan
Anies Rasyid Baswedan
maju, sambung dia, bisa menimbulkan persaingan sengit, seperti terbaca dari
hasil survei Charta Politika Survei yang dilakukan periode 12-20 Juli 2021
kepada 1.200 responden dengan margin of error 2,83 persen.
Dalam simulasi survei, elektabilitas Ganjar sebesar 16,2 persen bersaing
dengan Prabowo dengan elektabilitas sebesar 14,8 persen, dan Anies 14,6
persen.
Dalam simulasi 10 nama yang diuji, menurut Karyono, Ganjar mendapat angka
20,6 persen, Anies 17,8 persen, dan Prabowo 17,5 persen.
"Survei tersebut menunjukkan, jika seandainya Prabowo berhadapan dengan
Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan, maka jelas tidak mudah bagi Prabowo
untuk mewujudkan impiannya menjadi presiden," ujar
Karyono.
Dia juga menganggap hal yang wajar jika Gerindra tetap mendorong Prabowo
menjadi
calon presiden
(capres), meskipun ada kecenderungan elektabilitasnya menurun.
Pasalnya, Gerindra meyakini masih ada kesempatan untuk memenangkan Pilpres
2024. Hanya saja, semua itu tetap mempertimbangkan kondisi di
lapangan.
"Selain itu, formasi kandidat pasangan calon presiden-wakil presiden masih
belum jelas. Peta koalisi juga masih samar. Situasi politik juga masih
sangat dinamis," ucap Karyono.
Meski begitu, Karyono mengingatkan faktor psikologi politik perlu
dipertimbangkan Gerindra kalau tetap ingin mengusung Prabowo.
Hal itu untuk menjaga maruah partai sekaligus menjaga martabat ketua umum.
Apalagi, Gerindra sebagai partai besar perlu mengusung kandidat
sendiri.
"Keputusan akhir untuk menentukan maju tidaknya Prabowo akan tergantung
bagaimana formasi koalisi nanti," sebut Karyono.
Apalagi jika nantinya dukungan terhadap Prabowo terus melemah maka ada
kemungkinan Gerindra memiliki pertimbangan lain.
"Bisa saja Prabowo lebih memilih tidak maju menjadi capres, karena sejumlah
pertimbangan, misalnya faktor usia atau menghindari stigma sebagai capres
gagal berkali-kali," tutur Karyono.
Post a Comment for "Ingin Menang 2024, Prabowo Harus Cermat Pilih Pasangan"